Oleh: sham4khilafah | 11/12/2012

Dibalik pembentukan komandan militer gabungan, konspirasi III membajak revolusi islam suriah

al11/12/2012 | Untuk keseikan kalinya, negara-negara barat pimpinan Amerika Serikat tidak lelah-lelahnya berusaha mengaborsi revolusi rakyat suriah yang sudah berjalan lebih dari 20 bulan dengan visi besar mengembalikan negara khilafah islamiyah, hal ini sebagaimana nampak dalam serua-seruan aksi massa di jalan-jalan, termasuk terakhir pernyataan bahwa banyak brigade telah sepakat menjadikan konsep negara islam yg disodorkan oleh Hizbut Tahrir al-Islami untuk diadopsi sebagai bentuk pemerintahan pasca tumbangnya Bashar al-Assad kelak.

Negara-negara barat dengan dukungan negara moderat (baca: sekuler) di timur tengah seperti Arab Saudi, Qatar, Turki dll untuk ketiga kalinya berusaha membajak revolusi islam di suriah. Pertama kalinya adalah saat dibentuknya Syrian National Council (SNC) yg dibentuk di Turki.

SNC, ketika gagal mengambil hati masyarakat suriah dan gagal memperoleh kesetiaan dari pejuang pembebasan suriah (free syrian army / FSA) kemudian mendirikan koalisi oposisi nasional suriah yg diketuai  Ahmed Mouaz al-Khatib, salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin moderat di Doha, Qatar pertengahan November 2012 lalu. Namun, sekali lagi nampaknya tidak adanya dukungan masif dari para pejuang pembebasan suriah ditandai dengan penolakan para mujahidin yg mengetahui siapa dibalik pembentukan koalisi nasional oposisi tersebut, membuat negara-negara imperialis As, Inggris, Perancis dll harus keras berfikir mencari jalan lain.

Jum’at , 8 November 2012, secara diam-diam sekitar 500 pejuang FSA diundang di Turki dengan dihadiri pejabat dari AS, Inggris, Perancis, negara-negara teluk dan Yordania, untuk memilih sekitar 30 anggota dewan tinggi militer dan seorang kepala staf.  Sekitar 2/3 anggota dewan tinggi komando militer tersebut mempunyai keterkaitan dengan Ikhwanul Muslimiin dan organisasi islamist lainnya (salafist), termasuk bberapa pembelot militer rezim Asad. Namun, Jenderal Hussain Haj Ali, brigader Mustafa al-Sheikh, seorang kepala dewan militer FSA sebelumnya  yg berseberangan dengan IM tidak diundang, termasuk Kolonel Riad al-Asaad, pendiri  dan komandan lapangan FSA.

Dalam pertemuan tersebut, faksi pejuang pembebasan suriah yg menurut negara-negara imperialist terindikasi terkait dengan Al-Qaedah dan hendak mendirikan negara islam di suriah tidak diundang, termasuk Jabhat al-Nusrah (JN), salah satu brigade pejuang yang mendapatkan dukungan luas rakyat dan merupakan faksi utama terdepan dalam pertempuran melawan rezim diktator Bashar al-Asad. Amerika Serikat sendiri dalam minggu-minggu ini berencana mem-blacklist JN dalam daftar organisasi terorist sehingga dapat teralienasi dari pejuang pembebasan suriah. Terpilih sebagai kepala staf brigade jenderal Salim Idris, seorang jenderal pembelot yg bergabung dengan oposisi. Mustafa al-Sheikh disingkirkan sebagai dewan militer FSA dan tidak akan memiliki peran apa-apa lagi, sementara itu Kolonel Riad al-Asaad walaupun masih memegang komandan lapangan FSA, namun tanpa peran alias sebatas simbolik saja.

Upaya “menyingkirkan” peran faksi sekuler seperti Mustafa al-Sheikh dan “mempromosikan” faksi-faksi pejuang islamist dari kelompok perjuangan moderat baik dari IM maupun dari kelompok “salafi” lain adalah salah satu bentuk dan taktik imperialis pimpinan AS untuk mendapatkan dukungan dari rakyat suriah. Selain itu dengan  meninggalkan faksi mujahid “ekstrimist” yg mempunyai cita-cita idiologis  mendirikan negara islam adalan salah satu teknik politik pecah belah (divide et empera) yg ditujukan untuk menciptakan nuansa permusuhan diantara para pejuang pembebasan suriah. Lebih lagi berdasarkan laporan dari harian Times yg berbasis di Inggris, bahwa selama beberapa minggu ini AS tengah meluncurkan operasi penyamaran (covert operation) untuk mengirim senjata kepada pemberontak suriah untuk pertama kalinya dan hingga kini AS masih selektif memberikan persenjataan tersebut kepada kelompok pemberontak kecuali hanya  kelompok yg mempunyai visi yg sama dengan AS akan disuplai persenjatan dari Turki.

Hal ini sejalan dengan misi penjajah yg tidak menginginkan berdirinya negara khilafah islam di Suriah, karena mereka khawatir apabila pasca Asad dikuasai oleh militan “ekstrimist” yg ingin mendirikan negara islam, maka cengkraman Barat atas negara ini akan melemah sehingga mengakibatkan pergeseran peta geopolitik yg tidak terkendalikan di timur tengah. Dengan demikian, dewan militer yg baru dibentuk tersebut merupakan bagian dari koalisi nasional oposisi yg dibentuk setelah kegagalan SNC di Turki pada saat pertama kalinya muncul perjuangan bersenjata melawan rezim Asad.(Hamzah Al-Jawi, AP, al-Jazeera, al-Arabiya )


Responses

  1. Tulisan/ analisa anda tajam

  2. Di majalah berbahasa inggris mana bisa mendapatkan info ttg Suriah?

  3. kenapa bkan mesir..yg d buat khilafah yg mn mubarak sudah jatuh..?aq ragu..jgn2 klompok pembrontaky yg senjatanta dr AS adalh..cara amrika kuasai..suriah sblum..serang iran?..jihat..senjatanya..dr orang kafir?..musuhnya sama islam..??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: