Oleh: sham4khilafah | 19/12/2012

Menguak Hubungan Rahasia Amerika Serikat dan Suriah*

hafez assad & nixon19/12/2012 | Sejak Khilafah Utsmaniyah mengalami kekalahan pada perang dunia I, dan melalui perjanjian Sykes-Picot antara Perancis dan Inggris pada tahun 1916, Negara Perancis mulai melakukan penjajahan negeri yg kita kenal sekarang dengan nama Suriah. Untuk memahami seberapa luas pengaruh Amerika Serikat di Suriah dan untuk memetakan hubungan antara Rezim Assad dan AS, perlu untuk mempertimbangkan sejarah modern Suriah. Berikut ini terdapat 10 hal penting secara kronologis, mulai dari masa kolonialisasi negara-negara barat  terhadap suriah hingga saat ini  dengan memberikan penekanan keterlibatan AS di negara ini.

 1. AS dan CIA mendalangi peristiwa kudeta militer di Suriah sejak tahun 1949:

Melalui kedubesnya di Damaskus, Amerika Serikat dan badan intelijen AS (CIA), telah memimpin dalam upaya kudete militer pertama kalinya di Suriah pada tahun1949, sebagaimana diyatakan dalam sebuah buku “The Game of Nations”  oleh Miles Copeland. Hal ini menandai awal dari peperangan internasional memperebutkan Timur Tengah antara AS sebagai pendatang baru di kancah pertarungan dunia, dan Eropa (Perancis dan Inggris) yang menguasai pengaruh di kawasan tersebut namun begitu keluar dari perang dunia II dalam kondisi hancur. Amerika Serikat melalui CIA terus menerus mendukung upaya kudeta militer yg susul menyusul di Suriah dari tahun 1950an hingga 1960an melawan pesaingnya dari negara-negara eropa, hal ini membawa ketidakstabilan yang berlangsung selama lebih dari dua dekade.

2.  Hafez Assad menarik diri pada perang 1967 dalam rangka mengamankan Israel

Seorang mantan presiden Suriah, Amin a-Hafiz dalam wawancara dengan saluran Al-Jazeera pada tanggal 2 Juli 2001 menyatakan bahwa Hafez al-Assad, pada saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, memerintahkan secara keras penarikan diri militer dari dataran tinggi Golan pada awal terjadinya perang. Hal ini dilakukan sebelum adanya tanda-tanda kekalahan atau konfrontasi nyata dengan militer Israel yang mengakibatkan pendudukan suatu lokasi yang strategis[1]. Melalui pergerakan seperti ini, akhirnya Assad mendapatkan kepercayaan AS untuk mempertahankan batas utara Israel, yang dia pertahankan hingga tiga dekade berikutnya.

golan

3. AS mendukung Suriah melalui resolusi PBB 242 pada tahun 1967

Resolusi PBB no 242 yang disetujui setelah perang tahun 1967atau umumnya dikenal dengan perang 6 hari dengan Isreal dan pendudukuan atas dataran tinggi Golan, memberikan suriah hak untuk mendapatkan kembali kawasan tersebut hingga sekarang [2]. AS memberikan dukungan atas perjanjian ini dan termasuk hak suriah atas kawasan dataran tinggi Golan tsb. Hal Ini sebenarnya sesuatu yg kontras dengan posisi Israel, dan bagian dari “janji palsu”,  menolak gagasan penyerahkan kawasan yg secara geografis sangat strategis.

4. Memperkuat hubungan AS – Suriah setelah perang 1973

Usai perang “dadakan” tahun 1973 antara Suriah dengan entitas Israel, AS semestinya menyalahkan Suriah dengan menetapkan sanksi-sanksi, namun Presiden Nixon secara pribadi membayarnya dengan sebuah agenda kunjungan ke Damaskus untuk memperkuat relasi dengan rezim Assad.

5. AS merestui pendudukan Suriah atas Lebanon sejak tahun 1976

Ketika tentara Suriah melakukan invasi ke Lebanon saat awal terjadinya perang sipil di Lebanon. Tanda diamnya Amerika Serikat atas pendudukan tersebut merupakan “sinyal hijau” kepada Hafez Al-Assad untuk memulai dan melanjutkan invasi hingga tahun 2005 ketika keluarnya resolusi dibawah mandat perancis untuk menekan Suriah agar keluar dari Lebanon dengan keengganan AS. Salah seorang analis politik menggambarkan peran AS terkait dengan hal tersebut, sembari mengatakan:“AS nampaknya secara diam-diam setuju atas keberlangsungan pendudukan Suriah di Lebanon”[3].

6. Kerjasama AS dan Suriah melalui Perjanjian Tai’f pada tahun 1989

Perjanjian Tai’f ditandatangani di Arab Saudi antara faksi-faksi  Lebanon yg berbeda untuk mengakhiri perang saudara tahun 1989. AS sendiri sebagai salah satu makelar yang berpengaruh, selain Perancis, Arab Saudi, Mesir dan Suriah yg membantu penyusunan perjanjian, “merupakan pihak yg memberikan dukungan internasional kepada Suriah untuk mengawal  kasus Lebonon” [4].

7. Suriah ikut bergabung dalam kampanye AS menginvasi Iraq pada tahun 1991

Negara Suriah ikut mendukung kampanya perang AS melawan Iraq dalam(operasi badai gurun)dan ikut mengirimkan 14.500 tentara dan personel untuk membantu AS dalam Invasi militer ke Iraq [5].

8. AS menengahi negosiasi antara Suriah dan Israel selama tahun 1990-an

Hafez Al-Assad, selaku Presiden Suriah menerima AS sebagai salah satu mediator perselisihan antara Suriah dan Israel. Kepala Staf Militer,Letjen Hikmat al-Shihabi, memimpin delegasi ke AS dengan agenda mendiskusikan negosiasi damai atas permasalahan tersebut. Dalam salah satu wawancara dengan saluran televisi Rusia, Rusia Today TV, seorang mantan Menteri Pertahanan Suriah dan salah seorang pendukung utama rezim Assad, Mustafa Tlas, mengatakan dengan berani bahwa al-Shihabi adalah seorang agen CIA untuk AS [6].

9.  Kerjasama intelijen antara CIA dan Suriah dalam penganiayaan tahanan sejak 2001

Hubungan dekat antara CIA dan rezim suriah nampak begitu hangat, bahkan berlangsung ketika rezim suriah dicap sebagai negara bengis, rezim suriah memberikan pelayanan untuk melakukan pekerjaan kotor dengan CIA. Rezim Suriah mempergunakan badan intelijen yg dimiliknya untuk mengorek informasi dari tahanan dan tawanan perang melalui penganiayaan untuk kepentingan CIA. Salah satu kasus terkenal yg mendapatkan liputan pemberitaan Internasional adalah kasus yang menimpa warga negara Kanada, Maher Arar [7].

cia

10. Dukungan AS kepada Rezim Suriah selama Revolusi 2011

Sebagaimana pernah diulas secara rinci melalui artikel sebelumnya dalam situs kami di http://www.revolutionobserver.com, Amerika Serikat telah lama membisu dan hanya menjadi penonton atas pembantaian penduduk sipil suriah selama hampir 2 tahun, termasuk juga menolak mempersenjati pemberontak untuk melindungi diri mereka sendiri dan menggulingkan Assad.

Nampak terlihat dengan jelas, Amerika Serikat telah berupaya sejak awal berdirinya negara suriah modern untuk “memasang” antek2nya dalam kekuasaan melalui kudeta militer. Meskipun AS terus berdalih melalui retorika publik melawan Suriah, AS telah mencapai puncak hegemoninya secara sempurna ketika Hafez al-Assad , mengambil alih kekuasaan pada tahun 1970. Sejak naiknya Assad, Suriah menjadi negara yg dipergunakan untuk operasi sembunyi-sembunyi bagi AS, termasuk melayani kepentingan AS di kawasan tersebut dan melindungi batas-batas utara entitas Israel, meskipun kelihatannya negara ini mengklaim sebagai pemimpin perlawanan terhadap Israel di kawasan Arab.

Analisa Politik Revolusiton Observer|melalui http://www.revolutionobserver.com/2012/12/secrets-of-us-syrian-relations.html | oleh Syaikh  Abu Anas |Twitter : @abuanas1924

REFERENSI :

[1] http://www.aljazeera.net/programs/pages/fa527ac3-2308-4892-945e-7978486e3ac5 (arabic)
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Resolution_242 
[3] http://www.meforum.org/research/lsg.php
[4] http://www.gmu.edu/programs/icar/ijps/vol14_2/SALAMEY%20-%2014n2%20IJPS.pdf
[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Coalition_of_the_Gulf_War
[6] http://arabic.rt.com/prg/telecast/23261/ (arabic)
[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Maher_Arar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: